Kitab Maulid Nabi dan Pengarangnya

Orang yang pertama kali menuliskan biografi dan perikehidupan Nabi Muhammad saw adalah Muhammad bin Ishaq yang lahir pada 85 H dan wafat pada tahun 151 H.

Muhammad bin Ishaq bin Yasar, lebih singkatnya Ibnu Ishaq (Bahasa Arab: ابن إسحاق) adalah termasuk sejarawan muslim yang pertama. Ia yang pertama kali menulis Sirat Rasulullah, yang merupakan biografi Rasulullah pertama yang paling komprehensif

Muhammad bin Ishaq menguraikan riwayat Maulid Nabi Muhammad saw dan menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik oleh kaum muslimin dari peringatan-peringatan Maulid Nabi yang bentuknya antara lain berupa: walimah, sedekah, dan kebajikan-kebajikan lain yang bersifat ibadah. Muhammad bin Ishaq ini merupakan guru dari Ibnu hisyam yang menulis sejarah Nabi Muhammad.

Ibnu Hisyam dan Muhammad bin Ishaq menulis biografi Nabi Muhammad saw. Keduanya menyusun qasidah dan syair yang dibacakan dihadapan khalayak.

Inisiatif merayakan dan menulis Maulid Nabi Muhammad saw tentu karena mereka melihat contoh dari para sahabat yang mereka jumpai, walaupun para sahabat memang tidak pernah merayakan Maulid Nabi Muhammad saw dengan bentuk dan tata cara seperti yang ada pada saat ini, yaitu pengajian dan membagi-bagikan makanan.

Para sahabat merayakan Maulid Nabi Muhammad dengan model yang sangat sederhana seperti menggubah puisi yang penuh pujian kepada Nabi Muhammad yang dengan mudah dapat kita temukan di berbagai literatur. Qasidah digubah oleh para sahabat dan dibacakan dihadapan Rasululloh saw. Contohnya seperti qasidah yang disusun oleh Ka’ab Bin Zuhair saat bertemu Nabi Muhammad saw di Madinah sesaat setelah mengikrarkan keislamannya.

Ada juga sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Ibn Abbas adalah orang yang secara eksplisit membaca syair Maulid Nabi dan meminta ijin kepada Rasululloh saw untuk membacanya dihadapan beliau.

Kisah Ka’ab Bin Zuhair banyak dimuat dalam kitab-kitab sejarah. Dikisahkan, Nabi bukan hanya mendengarkan Qasidah yang dilantunkan Zuhair, tapi juga menghadiahkan burdah, sebuah jubah, bahkan ketika Ibnu Zuhair baru sampai pada bait 48-49.

Sedangkan di Nusantara, syair yang sangat terkenal dan dibacakan setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad saw adalah kitab Al Barzanji yang dikarang oleh Syaikh Ja’far Bin husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji (w. 1177 H) seorang ulama besar keturunan Nabi Muhammad dari keluarga sa’adah al-Barzanji yang masyhur, berasal dari Barzanji Irak.

Kitab ini lebih merupakan kitab sastra dibandingkan kitab sejarah karena keindahan bahasanya. Syair Al Barzanji biasanya dibacakan ketika ada perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. Sebagian dibacakan dengan qasidah, sebagian lain dibacakan secara bergiliran. Bahkan selain Maulid, al barzanji dibacakan ketika ada acara kelahiran di kampung-kampung.

Selain itu ada kitab maulid Simtudduror, maulid ini memiliki judul asli Simtudduror fi akhbar Maulid Khairil Basyar min akhlaqi wa aushaafi wa siyar. Namun, untuk memudahkan pelafalannya, masyarakat biasa menyebutnya dengan maulid simtudurror saja.

Maulid simtudurror disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi. Beliau merupakan ulama besar yang lahir pada hari Jumat, 24 Syawal 1259 H di Qasam, Hadhramaut.

Karangan ini merupakan bentuk risalah kecil yang berisi kisah Maulid Nabi Muhammad SAW. Isinya memuat tentang kisah Rasulullah dari lahir hingga wafat. (*)

Tulisan sebelumnyaBalqis Fadillah : Percepat Vaksinasi, Pemkab Harus Serius Libatkan Pesantren
Tulisan berikutnyaIPNU IPPNU Ranting Sibrama Siap Ikuti Lomba Hari Santri

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini