Entheng Tangane

71

SELESAI tadarrus Al Qur’an dan dzikir, lelaki itu masih bersimpuh di belakang Ustadz pembimbing ruhani di Panti rehabilitasi NAPZA Baturaden. Semua residen (siswa panti) sudah meninggalkan masjid dan menuju asrama masing-masing. Biasanya mereka meneruskan tidur sebentar, sebelum kegiatan kebersihan dimulai pada pukul 06.30 WIB.

“Ustadz, bolehkah saya pulang dari Panti ini, lebih cepat dan tidak harus sampai empat bulan?” Tanya residen asal pinggiran Purwokerto tersebut.

Sang Ustadz heran, karena yang ia tahu, laki-laki itu baru menyelesaikan masa isolasi atau penyesuaian dengan lingkungan Panti selama dua minggu. Artinya ia baru beberapa hari masuk program kegiatan.

“Empat bulan itu masa rehabilitasi yang memang sudah aturan dari kantor. Tapi jika hari ini kamu sudah merasa sembuh, yakin seyakin-yakinnya bahwa kamu sudah putus dari ketergantungan kepada obat, dan punya komitmen besar untuk kembali kepada keluarga seperti umumnya remaja lain, tentunya bisa cepat pulang. Syaratnya harus koordinasi dulu dengan pimpinan,” kata sang Ustadz itu.

“Baik Ustadz, saya sudah sembuh. Saya sudah tobat. Saya sudah capai sekali dengan dunia narkoba. Aku ingin bekerja lagi dan mempersiapkan untuk pernikahan….”, lanjut alumni Sekolah Menengah Kejuruan itu.

Laki-laki 21 tahun tersebut cukup cerdas. Sekolahnya dari SD sampai SMK terhitung mulus. Ia mendapat ijazah dari jurusan Mesin pada sebuah SMK favorit di kota kelahirannya. Ia juga mengantongi beberapa piagam keolahragaan dan piagam praktikum dari keikutsertaannya dalam beberapa event perlombaan.

“Kamu bukan anak bodoh, orang tuamu cukup ekonominya. Kenapa bersentuhan dengan narkoba? Apa yang kamu rasakan kurang dari keluargamu?” Tanya sang Ustadz.

“Sejak kecil, aku mendapat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari ayahku. Sering sekali ayahku menampar, menendang dan melempar dengan benda-benda keras, jika merasa terganggu kenyamanannya. Dia itu senang plak plek, kata lelaki itu.

“Aku sebenarnya dendam pada ayahku, namun aku tak berani melawan. Di usia SMP lah aku berkenalan dengan teman yang menawari obat-obatan. Akupun menerimanya, sebagai pelampiasan kekecewaan dengan ayahku….” sambungnya lagi.

“Namun saat ini aku sadar, dendamku malah menyiksaku. Aku capai sekali dengan ini semua. Aku ingin tenang tanpa obat-obatan. Aku ingin bekerja lagi.” nada bicaranya mantap.

Keseriusannya ingin kembali ke dunia normal, ia tunjukan dengan keseriusannya untuk mengikuti tahapan-tahapan terapi di Panti tersebut. Termasuk saat mengikuti terapi mental sepiritual berupa peribadatan seperti shalat, baca Qur’an, dzikir dan praktek akhlak dengan sesama temannya. Ia ingin segera pulang. Ia ingin melupakan tabiat ayahnya yang entheng tangane. Ia berhasrat besar untuk kembali kepada keluarga dan bekerja lagi. Ia berencana segera nenikah dengan gadis pujaannya yang sangat setia sampai hari ini. (*)

*Penulis bergiat di Komunitas Sastra Pinggiran (KOPI) dan Literasi Blakdhen Gumelar. Menulis buku Menembus Batas Logika, Nyanyian Cinta dari Negeri Seberang dan Bercermin pada Pandemi. Saat ini diamanahi sebagai Ketua Tanfidziyah NU desa Ketenger, Baturraden

1 KOMENTAR

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here