Dalil-Dalil Ronggeng Dukuh Paruk

166
Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari

Ronggeng Dukuh Paruk bisa jadi menjadi karya sastra Indonesia yang masuk standar kanon secara muttafaq ‘alayh jika suatu saat diadakan kanonisasi. Tak terhitung apresiasi terhadap novel dengan latar belakang Banyumasan yang kuat ini dari kritikus sastra, budayawan, dan akademisi, baik dari dalam maupun luar negeri.

Bildungsroman yang menceritakan seorang ronggeng bernama Srintil yang terjebak kisah asmara, kisruh politik, dan pertentangan batin yang semuanya pelik ini sudah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa, di antaranya adalah bahasa Inggris, Jepang, Jerman, dll.

Penulis artikel ini pertama mengetahui novel ini ketika ia duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, namun berkesempatan membacanya ketika ia sudah kelas tiga Madrasah Aliyah.

Penulis memiliki sensasi menarik namun subjektif dalam membaca karya ini. Sepanjang novel, penulis yang sedang mondok di Brebes, seakan diajak pengarang untuk mudik ke Banyumas versi jadul: menyusuri tegalan sawah yang panjang bak tiada ujung; berkenalan dengan satwa-satwa penghuni kebun dan sawah; mendengar orang-orang berbincang dengan dialek Ngapak Banyumasan yang begitu khas; dan pada akhirnya, dihadapkan kepada cerita sejarah yang getir.

Penulis, bisa jadi pembaca yang lain juga merasakan hal yang sama, merasa heran saat selesai membaca novel ini dan menyelidiki siapa pengarangnya. Ahmad Tohari adalah putra seorang penghulu yang mana keluarganya kental dengan nuansa pesantren NU. Bahkan, adiknya, KH. Ahmad Sobri adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Jatilawang.

Penulis bertanya-tanya mengapa Ahmad Tohari yang berlatarbelakang pesantren menulis novel dengan nuansa pedesaan yang penuh dengan seloroh cabul dan jauh dari norma masyarakat?

Rasa penasaran ini terpendam hampir selama tiga tahun, sebelum penulis bertemu seorang kawan di kampus yang ternyata adalah pengurus di perpustakaan umum yang sepenuhnya didanai Ahmad Tohari. Ketika artikel ini diunggah, penulis terhitung telah mengunjungi Ahmad Tohari sebanyak empat kali. Dari kunjungan-kunjungan ini banyak hal yang menjawab rasa penasaran penulis.

Mengapa ronggeng?

Ahmad Tohari langsung mengutip QS. al-Baqarah(2): 284,

لِلّه مَا فِيْ السَّمَاوَاتِ وَمَا فِيْ الْأرْضِِ

“Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang di bumi”

Dari ayat ini, Ahmad Tohari balik bertanya, “Apakah ronggeng tidak termasuk dalam ‘ma’? Tentu ia tercakup!” Ronggeng yang kala itu menjadi duta kampung juga termasuk kepunyaan-Nya meski bisa jadi tindak-tanduknya tidak sesuai wahyu-Nya.

Baca Juga : Puasa Pertama Aqil (Bagian I)

Perjalanan batin Srintil, mulai dari ia menjalani prosesi pelantikan sebagai ronggeng hingga ketertarikannya pada Bajus, juga tak luput dari dalil:

اللّه وَلِيُّ الَّذِيْنَ أمَنُوْا يُخْرِجهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلى النُّوْر

“Allah pelindung bagi orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya”

Srintil yang awalnya bangga dengan statusnya sebagai Ronggeng: bergelimang harta; menjadi kebanggaan Dukuh Paruk; dan mampu melayani setiap lelaki yang ingin ditimang kelelakiannya, lama-kelamaan jengah dengan popularitas dan ketersediaannya bagi setiap lelaki, terlebih saat ia jatuh hati kepada teman sepermainannya, Rasus.

Lama-kelamaan, sasmita menuntunnya untuk keluar dari kegelapan dunia berupa status sebagai ronggeng yang menerima semua lelaki, menuju cahaya, harapan agar menjadi wanita baik-baik yang dimiliki satu lelaki.

Novel ini, menurut penulis artikel, menampilkan hidayah sebagaimana hidayah Nabi Ibrahim as. yang berhasil menemukan Tuhan setelah perenungannya ketika melihat langit.

Awalnya ia mengira bahwa bintang adalah Tuhannya, ketika bintang tersebut tenggelam, ia meragukan ketuhanan bintang tersebut. Begitupun ketika ia melihat bulan dan matahari. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa Tuhannya ialah Zat Yang Tak Pernah Tenggelam dan Hilang (QS. al-An’am: 76-78).

Jika pada kisah Bapak monoteisme, hidayah ada untuk menunjukkan siapa yang harus menjadi objek sesembahan sebenarnya, maka dalam novel ini, hidayah menunjukkan Srintil kepada jatidiri wanita sejati, yakni wanita boleh dijamah oleh hanya satu lelaki, yakni lelaki yang sah.

Mengapa segenap karya Ahmad Tohari menceritakan kehidupan wong cilik, termasuk Ronggeng Dukuh Paruk?

Ahmad Tohari mengaku tak bisa menulis kehidupan orang-orang dengan latar belakang menengah ke atas. Ia, yang mengaku cenderung kepada sosialis, sudah terpatri pikirannya untuk menulis kehidupan kaum papa nan terpinggirkan.

Ahmad Tohari kembali berdalil, kini dengan hadis qudsi riwayat Abi Hurairah yang berisi dialog antara Allah dan seorang manusia. Pada hadis yang cukup panjang lebar ini, Allah mengulik hamba-Nya yang enggan menjenguk tetangganya yang sakit, memberi makanan kepada tetangganya yang kelaparan, dan memberi minuman kepada tetangganya yang kehausan, sedangkan ridha Allah ada pada tetangga-tetangga yang menderita itu.
Berangkat dari hadis ini, Ahmad Tohari ingin menolong “tetangganya yang sakit” juga.

Dalam kasus RDP, Ia, yang merupakan saksi mata atas kekerasan terhadap orang-orang tak bersalah yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca-G30 S, ingin menyuarakan nasib korban kekerasan yang tak berdosa. Ahmad Tohari menyaksikan sendiri bagaimana petani, ronggeng, buruh harian lepas, penggembala kambing, ditangkap bahkan dibunuh tanpa pengadilan.

Peristiwa ini membekas benar dalam sanubari alumni SMAN Purwokerto ini. Ia kemudian, walaupun terkesan diawali dengan basa-basi yang panjang, menceritakan kegetiran tersebut dengan menceritakan nasib Dukuh Paruk dan ronggengnya yang kena amuk massa karena dituduh terlibat PKI. (*)

Berita sebelumyaMahasiswa Bahasa Arab, Bakal Buat ‘Majalah Hybrid’
Berita berikutnyaPelajar NU SMK WELA Belajar Saling Berbagi

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini